Wednesday, June 13, 2012

Resensi Film August Rush


Kalau hanya menyimak cerita, film ini hanya seperti fairy-tale, dongeng seribu satu malam. Terlalu sederhana kalau film ini diceritakan melalui kata-kata. August Rush lebih banyak bercerita melalui gambar, melalui gerakan, dan melalui musik, daripada melalui kata-kata atau dialog antar para pemainnya. Namun minimnya kata-kata, membuat dialog yang ada di film ini menjadi sangat bermakna dan memiliki kekuatan untuk menjelaskan makna musik yang terdengar.

Dari film ini lebih bisa dipahami bahwa musik yang terdiri dari nada-nada selalu ada di sekitar kita, sementara alat musik hanya sekedar alat bantu untuk mengulangi nada-nada yang ada di alam, sebuah simfoni kehidupan yang indah.
Seperti yang diungkapkan Evan “August Rush” Taylor di akhir film tersebut, “musik ada di sekitar kita, dan yang perlu kita lakukan hanyalah.. mendengarkan”.
Sambil diiringi cuplikan soundtrack music August Rush disini, masih terbayang indahnya film semalam, … August Rush, it’s just about music …

Semangat musik yang dibawa seorang bocah berusia 12 tahun bisa mengubah hidupnya. Sebuah bukti bahwa seseorang bisa melakukan apa saja apabila ia mempercayainya dengan sepenuh hati.

Cerita diawali dengan kilas balik 11 tahun lalu. Louis Connelly (Jonathan Rhys Meyers) bertemu Lyla Novacek (Keri Russell) di atap sebuah gedung dekat taman Washington, New York. 

Louis yang vokalis sebuah band sedang merasa jenuh dengan aktivitasnya. Sedangkan Lyla, sorang pemain cello, tertekan dengan segala tuntutan ayahnya, Thomas Novacek (William Sadler). Mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama.

Namun Louis dan Lyla terpaksa berpisah kota karena Lyla harus memenuhi kehendak ayahnya. Mereka berdua pun akhirnya berhenti bermain musik, Louis kehilangan inspirasinya dan Lyla kehilangan semangatnya. 

Di samping itu, pertemuan singkat mereka menyebabkan Lyla mengandung. Namun, Lyla harus kehilangan bayinya ketika mengalami sebuah kecelakaan. Di masa kini, seorang yatim piatu bernama Evan Taylor (Freddie Highmore) merasa ia mampu mendengar suara musik. Ini adalah bakat yang benar-benar luar biasa. Suara-suara berbagai aktivitas sehari-hari yang biasa kita dengar adalah musik bagi Evan.

Seperti anak yatim piatu pada umumnya, Evan ingin menemukan kedua orang-tuanya. Tidak peduli apapun yang orang katakan, Evan percaya orang tuanya ada di suatu tempat. Evan mengaku ia dapat mendengar mereka. Ketakutan hendak diserahkan pada keluarga lain untuk diadopsi dan keinginan untuk mencari kedua orangtua kandungnya, Evan memutuskan lari dari panti asuhan. Hingga akhirnya ia tiba di New York. 

Secara tidak sengaja ia terjebak dalam perlindungan seorang pemusik jalanan nyentrik, Maxwell ‘Wizard’ Wallace (Robin Williams). Awalnya Evan gembira sebab Wizard menjanjikan kesuksesan dan memberinya nama julukan yang komersil, August Rush. Namun karena Wizard lebih tertarik untuk menjual bakatnya, Evan pun kecewa dan melarikan diri.
Pelarian Evan kembali membawanya menuju hal yang tak terduga. Ketika pelariannya sampai di sebuah gereja. Bakat Evan kembali terlihat dan Pendeta James (Mykelti Williamson) memutuskan untuk membawa Evan ke sekolah tinggi musik, Julliard. 

Nasib Evan benar-benar berubah total karena ia sangat mempercayai musik. Begitu pula dengan Loius dan Lyla yang kembali menemukan kebahagiaan walaupun harus berselang sebelas tahun sebelum mereka bertemu kembali. Film drama musikal ini menawarkan semangat baru. Pada awal film mungkin terasa agak membosankan, namun penonton akan terpukau dengan suguhan musik yang ear cathcy.

Tak heran film ini mendapat nominasi Oscar 2008 dalam kategori 'Lagu Tema Terbaik' untuk single berjudul Raise It Up. Film ini adalah debut studio pertama sutradara Kirsten Sheridan. Sebelumnya ia menyutradarai film-film independen yang kurang terkenal. Walaupun begitu, August Rush adalah sebuah film keluarga yang layak ditonton.

No comments:

Post a Comment